Purwodadi, Grobogan
| Purwodadi | |
|---|---|
| — Kecamatan — | |
Peta lokasi Kecamatan Purwodadi | |
| Negara | |
| Provinsi | Jawa Tengah |
| Kabupaten | Grobogan |
| Pemerintahan | |
| - Camat | ???? |
| Luas | - km² |
| Jumlah penduduk | - |
| Kepadatan | - jiwa/km² |
| Desa/kelurahan | 13 desa 4 kelurahan |
Dua pegunungan tersebut terdiri dari hutan jati, mahoni dan campuran yang memiliki fungsi sebagai resapan air hujan disamping juga sebagai lahan pertanian meskipun dengan daya dukung tanah yang rendah.
Lembah yang membujur dari barat ke timur merupakan lahan pertanian yang produktif, yang sebagian telah didukung jaringan irigasi. Lembah ini selain dipadati oleh penduduk juga terdapat banyak aliran sungai, jalan raya dan jalan kereta api.
Purwodadi terkenal dengan masakan swikenya.
[sunting] Desa/kelurahan
Swike
Swikee Kodok Oh, paha kodok dalam kuah tauco | |
| Informasi | |
|---|---|
| Nama lain | Swikee |
| Asal | Indonesia |
| Daerah | Purwodadi, Jawa Tengah |
| Pencipta | Tionghoa Indonesia |
| Penyajian dan bahan | |
| Tahapan | Makanan utama |
| Disajikan | Panas |
| Bahan | Paha kodok |
Ada yang berpendapat bahwa rasa dan tekstur swike merupakan paduan antara ayam dan ikan. Umumnya hanya bagian paha kodok yang dijadikan swike, akan tetapi bagian kulitnya dapat dikeringkan dan digoreng menjadi kripik kulit kodok. Cara memasak swike yang lainnya adalah "pepes kodok", daging kodok tanpa tulang dimasak dalam bungkusan daun pisang sebagai pepes.
Selain di Purwodadi, swike juga dapat ditemukan di berbagai kota di Indonesia, seperti Jakarta, Bandung (salah satu gerai restoran populer adalah "Swikee Jatiwangi"), Yogyakarta, Semarang dan Surabaya. Umumnya restoran-restoran swike di Indonesia menyebut dirinya sebagai restoran "Swike Purwodadi" atau "Swike Jatiwangi".
Indonesia adalah pengekspor kaki kodok terbesar di dunia, dengan mengekspor lebih dari lima ribu ton daging paha kodok tiap tahunnya, kebanyakan untuk memenuhi permintaan dari Perancis, Belgia dan Luksemburg. [2] Di masa lalu kodok diperoleh dengan memburunya dari alam, seperti menangkapnya di sawah dan kodok mudah ditemukan terutama saat musim penghujan. Kini terdapat beberapa usaha peternakan kodok untuk diekspor memenuhi permintaan pasar luar negeri, terutama Perancis.
[sunting] Variasi
Swike dapat dimasak dan disajikan dengan berbagai cara, direbus untuk dijadikan hidangan berkuah, ditumis, atau digoreng sesuai saus dan bumbu masing-masing:- Swike oh atau Kodok oh, paha kodok dimasak dalam kuah tauco dengan bumbu bawang putih.
- Swike goreng mentega, paha kodok digoreng dalam mentega atau margarin
- Swike kecap, paha kodok ditumis dengan kecap manis
- Swike saus tomat, paha kodok ditumis dengan saus tomat
- Swike asam manis, paha kodok ditumis dengan saus asam manis
- Swike goreng tepung, paha kodok dilumuri adonan tepung dan digoreng dalam minyak panas
- Swike goreng mayones, paha kodok digoreng tepung disajikan dengan mayones
- Pepes swike, daging kodok tanpa tulang dibumbui dan dimasak dalam bungkusan daun pisang sebagai pepes, variasi lainnya adalah pepes telur kodok, telur kodok yang dimasak pepes.
[sunting] Permasalahan
Terdapat dua masalah utama mengenai konsumsi kodok di Indonesia; yaitu masalah agama dan lingkungan. Dalam aturan pangan Islam, mayoritas mahzab dalam hukum syariah menganggap daging kodok haram (non-halal). Masuknya daging kodok dalam kategori haram didasari dua pendapat; makanan yang boleh dikonsumsi tidak boleh menjijikkan, dan adanya larangan untuk membunuh kodok serta binatang lain seperti semut, lebah, dan burung laut bagi umat muslim. Status haram daging kodok ini menuai kontroversi, seperti contoh kasus di Demak, di mana Bupati mendesak para pengusaha restoran swike untuk tidak mengkaitkan swike dengan Demak. Hal ini karena dianggap dapat mencoreng citra Demak sebagai kota Wali dan kota Islam pertama di pulau Jawa, serta kebanyakan warga Demak adalah pengikut mahzab Safii yang mengharamkan daging kodok.[3]Sesungguhnya dalam aturan pangan Islam terdapat perbedaan dalam memandang masalah halal atau haramnya daging kodok. Kebanyakan mahzab utama dalam Islam seperti mahzab Safii, Hanafi, dan Hambali secara jelas melarang konsumsi daging kodok, akan tetapi mahzab Maliki memperbolehkan umat Islam untuk mengkonsumsi kodok tetapi hanya untuk jenis tertentu;[4] yaitu hanya kodok hijau yang biasanya hidup di sawah, sementara kodok-kodok jenis lainnya yang berkulit bintil-bintil seperti kodok budug tidak boleh dikonsumsi karena beracun dan menjijikkan.
Para aktivis lingkungan mendesak dibatasinya konsumsi kodok — terutama kodok liar yang bukan hasil peternakan — karena arti penting kodok bagi ekosistem. Para ahli konservasi mengingatkan bahwa kodok dapat mengalami nasib sama seperti ikan kod, permintaan kuliner yang berlebihan dapat mengurangi populasi kodok regional secara hebat sehingga tidak dapat dipulihkan seperti sedia kala.[2] Seperti kebanyakan hewan amfibia, kodok dengan kulitnya yang tipis, basah dan berlendir sangat peka dan rentan terhadap perubahan lingkungan dan pencemaran. Populasi amfibia dunia terancam berkurang karena hancurnya habitat, kerusakan lingkungan, dan pencemaran.
GAMBAR PURWODADI TEMPO DULU
Dan Sampai Saat ini w gak pernah tau PURWODADI udah berubah apa belum??
Bledug Kuwu: Kawah Lumpur Dengan Dentuman Seperti Meriam
Indonesia memiliki banyak potensi wisata alam, salah satunya adalah tempat wisata Bledug Kuwu yang terletak di daerah Kabupaten Purwodadi Propinsi Jawa Tengah.Jika di Amerika Serikat terdapat SALT LAKE ( padang garam ) yang berasal dari pendangkalan laut yang berubah menjadi daratan yang luas, di Purwodadi, Jawa Tengah terdapat dangkalan laut sekaligus merupakan keajaiban alam yang tidak dimiliki oleh negara – negara lain, namanya “bledug kuwu”. Lokasi ” bledug kuwu ” tepatnya berada di desa Kluwu kecamatan Kradenan Kabupaten Grobogan Jawa Tengah.
Bledug Kuwu adalah sebuah kawah lumpur (mud volcano) yang terletak di Desa Kuwu, Kecamatan Kradenan, Kabupaten Grobogan, Propinsi Jawa Tengah. Tempat ini dapat ditempuh kurang lebih 28 km ke arah timur dari kota Purwodadi. Bledug Kuwu merupakan salah satu obyek wisata andalan di daerah ini, selain sumber api abadi Mrapen, dan Waduk Kedungombo. Obyek yang menarik dari bledug ini adalah letupan-letupan lumpur yang mengandung garam dan berlangsung terus-menerus secara berkala, antara 2 dan 3 menit.
Suaranya yang secara periodik meletupkan bunyi bledug ( seperti meriam ) dari gelembung lumpur bersamaan dengan keluarnya asap, gas dan air garam. Melalui proses tersebut menjadikan daratan bledug yang dulunya berada di dasar laut, sekarang menjadi daratan dengan ketinggian kurang lebih 53 meter dari permukaan laut. Luas arealnya 45 Ha dengan suhu minimum 31 derajat celcius.
Untuk menuju lokasi tempat wisata “bledug kuwu” kita harus menepuh jalan darat dari Semarang melalui Purwodadi sampai di desa Kluwu. Sepanjang perjalanan kita dapat menyaksikan pemandangan alam berupa hamparan sawah yang hijau dan langit yang biru. Pemandangan bukit – bukit yang indah sepanjang perjalanan menuju “bledug kuwu” juga membuat perjalanan kita tidak membosankan.
Sesampai di “bledug kuwu”, ada perbedaan yang sangat berbeda, jika selama perjalanan kita disuguhi pemandangan alam yang indah dan subur, di “bledug kuwu” lokasinya tandus, panas dan tidak subur, tapi hal ini juga merupakan daya tarik tersendiri. Selain menikmati keindahan “bledug kuwu” di tempat ini banyak terdapat beberapa penduduk yang mencari nafkah dari “bledug kuwu” dengan memanfaatkan sumber “bledug kuwu” menjadi garam dapur. Kemasyuran rasa garam “bledug kuwu” tercatat didalam sejarah keraton Surakarta. Hal ini dapat dibuktikan melalui berbagai keterangan dari masyarakat sekitarnya. Didaerah ini terdapat gunungan – gunungan kecil yang puncaknyanya mengeluarkan lumpur berwarna kekuning kuningan.
“Bledug kuwu” mempunyai keistimewaan tersendiri, berdasarkan peta geologi Dr.AJ Panekoek, bahwasanya tanah – tanah yang ada bledugnya adalah jenis Alvuial Plains(tanah endapan atau tanah mengendap) bersamaan dengan meletupnya bledug, keluarlah uap, gas dan garam. Suara bledug terjadi dari muntahnya lumpur dari kawah. Lumpur yang keluar berwarna kelabu atau kelabu kehitam – hitaman, tetapi akan berwarna putih jika dicampur dengan air dan jika diendapkan akan air endapan “bledug kuwu” adalah tanah kapur dan tepat sekali jika disitu dulunya laut kemudian menjadi daratan, karena erosi dari gunung kapur sudah tentu endapannya mengandung kapur.
Menurut cerita turun temurun yang beredar di kalangan masyarakat setempat, Bledug Kuwu terjadi karena adanya lubang yang menghubungkan tempat itu dengan Laut Selatan (Samudera Hindia). Konon lubang itu adalah jalan pulang Joko Linglung dari Laut Selatan menuju kerajaan Medang Kamulan setelah mengalahkan Prabu Dewata Cengkar yang telah berubah menjadi buaya putih di Laut Selatan. Joko Linglung konon bisa membuat lubang tersebut karena dia bisa menjelma menjadi ular naga yang merupakan syarat agar dia diakui sebagai anaknya Raden Aji Saka.






Tidak ada komentar:
Posting Komentar