Tentang Anak Jalanan
Anak jalanan atau biasa disingkat anjal adalah potret kehidupan anak-anak yang kesehariannya sudah akrab dijalanan. Dan mungkin kita sudah tidak asing tentang sosok ini, karena disetiap penjuru kota, kita dapat dengan mudah menemukan mereka.
Lalu apa sebenarnya yang terjadi dengan anak-anak ini? Mereka yang tergolong kecil dan masih dalam tanggung jawab orang tuanya harus berjuang meneruskan hidup sebagai anak jalanan dan terkadang mereka menjadi sasaran tindak kekerasan dari orang-orang yang tidak bertanggung jawab.
Tapi ada juga sebagian orang tua yang dengan alasan untuk membantu ekonomi keluarga, menganjurkan agar anak-anaknya untuk menghabiskan masa kecilnya sebagai anak jalanan.
Lalu apa sebenarnya yang terjadi dengan anak-anak ini? Mereka yang tergolong kecil dan masih dalam tanggung jawab orang tuanya harus berjuang meneruskan hidup sebagai anak jalanan dan terkadang mereka menjadi sasaran tindak kekerasan dari orang-orang yang tidak bertanggung jawab.
Tapi ada juga sebagian orang tua yang dengan alasan untuk membantu ekonomi keluarga, menganjurkan agar anak-anaknya untuk menghabiskan masa kecilnya sebagai anak jalanan.
INI CERITA W TENTANG ANAK JALANAN KARENA DIA W BARU TAHU ARTI NIKMATNYA BERBAGI
”Sore itu, saya dan seorang sobat baru saja keluar dari sebuah toko swalayan di wilayah Jalan Sudirman, Jakarta. Karena sudah lama tidak lagi sempat curhat dan ngobrol ngalor-ngidul karena kesibukan masing-masing, kami sepakat untuk menyeberang dan melewati sore itu di teras depan gedung kembar Danamon Aetna, yang setiap sore dijadikan tempat duduk-duduk atau “rendez-vous” bagi sebagian orang.
Kami duduk dan mengobrol sambil makan coklat. Menyadari begitu banyak orang yang menikmati sore yang indah itu di situ, kami melemparkan pandangan ke sekeliling. Kami tertegun, tidak jauh dari tempat kami duduk, duduklah tiga orang anak kecil—usia sekolah—dari pakaian mereka, tampang mereka yang kurus, kucel dan dekil, mereka adalah anak-anak jalanan, yang kapan saja mungkin kita temui mengamen di perempatan-perempatan lampu merah, atau di dalam bis-bis kota.
Ada satu pemandangan yang membuat kami tertegun. Mereka makan mie ayam, satu mangkuk bertiga.. Satu mangkuk, untuk tiga perut.. Mungkin karena recehan yang mereka kumpulkan hasil dari mengamen ternyata setelah dihitung-hitung hanya cukup untuk beli satu mangkuk mie ayam. Tetapi mereka tetap ceria, makan bergantian, —benar-benar berbagi—dan sabar menunggu giliran masing-masing, menyendok mie ayam. Yang satu menunggu yang lain menyendok, sebelum tiba giliran dirinya menyendok. Begitu terus, sampai mie ayam benar-benar habis dan bersih, bahkan airnyapun mereka seruput dari mangkok secara bergantian. Mereka tampak sangat menikmatinya.
Kami begitu tertegun, sampai-sampai kami sama-sama menunggu dengan penasaran adegan seperti apa lagi yang akan terjadi selanjutnya. Kemudian, mereka menghitung uang recehan itu, dan membeli air aqua ukuran gelas, dan lagi-lagi untuk dibagi bertiga. Penuh haru kami menyaksikannya.
Sahabat saya berkomentar, suatu hari nanti, jika Tuhan membuat kehidupan salah satu, atau ketiganya berhasil, ketika mereka memakai kemeja Arrow dan berdasi, berpenampilan seperti kebanyakan para manager,–who knows–dan berkantor di salah satu gedung yang ada di sekitar kami melihat pemandangan itu, mereka akan melihat ke bawah, mengenang puluhan tahun yang telah lewat, ketika suatu sore, di suatu masa, mereka makan mie ayam satu mangkuk bertiga..
Kami tergerak untuk menawari mereka makan mie ayam sekali lagi, satu mangkuk, untuk satu orang, tapi ketika kami akan mendekati mereka, mereka sudah beranjak pergi dan akan mulai mengamen lagi di bis-bis yang akan mereka tumpangi.Mereka adalah anak-anak yang terpinggirkan, tetapi justru dari merekalah kami mendapatkan sesuatu yang bermakna untuk kami bawa pulang.”
ANAK JALANAN
Anak jalanan yang ada di ibu kota ini semakin banyak dan semakin meresahkan masyarakat. seringkali masyarakat menyimpulkan bahwa anak jalanan adalah sama halnya dengan preman. Premanisme sendiri sering sekali diartikan sebagai orang-orang yang sering melakukan segala sesuatu tindak kriminal. Seperti memalak, bermain judi, mabuk-mabukan, dan banyak lagi hal-hal yang sering di lakukan oleh kaum premanisme.
Tetapi sebenernya masyarakat salah mengartikan dari kata preman. Sebenernya kata preman itu di ambil dr kata “free man” yaitu manusia bebas. Bebas dalam hal apa pun, bkan brarti bebas semena-mena untuk melakukan segala sesuatunya. Karena free man adalah orang yang hidup dijalan, dan mencoba hidupnya untuk tidak merepotkan orang lain.
Untuk spesifikasi lebih detail tentang anak jalanan, kita harus lihat apa yang membuat mereka hidup di jalanan. Seperti ada yang di karenakan dari segi ekonomi, dari segi keluarga, dan ada juga karena memang dia lebih nyaman untuk hidup di jalanan meski dia mampu untuk tinggal di dalam rumah.
Yah memang untuk saat ini pengertian kita tentang anak jalanan, pasti sudah yang macam-macam. Seperti menganggap mereka pencopet, maling, atau anak yang tidak tau aturan. Tetapi kembali ke sebelumnya, kita harus tau apa latar belakang mereka.
Usaha pemerintah untuk menanggulangi anak-anak jalanan pada saat ini sanggat kurang efisien. Meski mereka sudah melakukan razia anak jalanan dan di bawa ke pos untuk di karantinakan, tetapi 2 atau 3 hari lagi juga anak jalanan tersebut sudah keluar dari tempat tersebut. Karena dari para orang tua asuh mereka menyogok aparat tersebut dengan uang. Karena, masih banyak para aparat yang masih sering melakukan hal yang dinamakan KKN ( korupsi, kolusi, dan nepotisme).
Tidak bisa melihat uang sogokkan yang di berikan, aparat tersebut juga langsung luluh dengan orang yg menyogoknya tersebut. Jadi masih akan tetap ada dan bahkan bertambah tingkat kehidupan anak-anak jalanan. Terutama di Ibu kota ini.
Jadi, inti dari permasalahan yang di peroleh adalah, apakah semua anak jalanan itu bisa di golongkan dengan kaum PREMANISME??? Jawabannya adalah TIDAK. Karena banyak diantara anak jalanan yang ada menjalankan hidupnya demi untuk menafkahkan keluarganya lagi, dan juga mereka tidak melakukan hal-hal negative yang di pandang masyarakat selama ini.
Mulai sekarang janganlah selalu berfikiran negative tentang anak jalanan. Jika anda selalu berfikir negative tentang mereka, maka koreksi dulu diri anda apakah sudah 100% benar. Inilah jeleknya masyarakat Indonesia. Hanya bisa berfikir negative dan berkomentar yang belum tentudirinya benar.















Tidak ada komentar:
Posting Komentar