Rabu, 03 Oktober 2012

Anak-anak Itu Terlantar

Siapa bilang Mereka yang terlantar tak bisa menjadi kaya
Siapa bilang mereka yang tak punya ibu tidak bisa menjadi pemimpin
Siapa bilang mereka yang terbuang di panti asuhan tidak bisa tertawa
Anak-anak itu terlantar di pinggiran jalan
mengais-ngais di pinggiran jalan
meminta-minta di tengah hilir mudik orang kaya
Menyanyikan nada-nada sumbang
malam melangkah diantara lampu-lampu kota
barisan tubuh mungil terlelap berselimutkan angin
menutup mata dalam damai diatas selembar kertas
melekuk seluruh tubuhnya menghangatkan diri
acap kali makian menghampiri moral mereka
kata-kata tak bermoral mampir dalam kepolosan mereka
terbentuk jika keras dan tak lagi mengerti etika dan moral
Anak -anak itu terlantar diantara wanita-wanita yang bukan ibunya
spanduk kusam menjadi rumah mereka
bergelayut diantara ting-tiang papan iklan
tertawa tanpa tahu akan kemana masa depannya
CIta-cita mereka besar….
Harapan mereka jauh……
semangat mereka tinggi… “Aku ingin sekolah”; katanya
Setiap hari melewati mereka dengan hati teriris
Berharap suatu hari merangkul mereka
berharap suatu hari memberi mereka masa depan
berharap suatu hari menjadi orangtua bagi mereka semua
dan terus berharap untuk mereka yang tidak kukenal
Meneteskan air mata ini tidak akan memberi mereka masa depan
merasa terluka di hati ini tak akan memberi mereka makan
dengan semangat dan kerja keras … Ku coba tuk mencapai harapan ini
Mereka itu terlantar… tapi mereka masih punya harapan
mereka masih bisa menjadi pemimpin
mereka tidak boleh terus tidur di jalanan ini
bergelayutan diatara papan iklan itu…..
itu bukan rumah mereka…..
mereka adalah manusia yang penuh harapan
manusia yang tidak boleh dibiarkan dalam kebodohan
Anak-anak itu terlantar…
meski tersenyum, aku tau mereka berharap
sinar matanya yang lesu,
tertawa dalam sinar mata yang merasa putus asa

CINTA DI ANTARA DUA

Kemarin, sekitar jam 2 pagi dering handphone-ku berbunyi. Ada 2 panggilan masuk yang memang sengaja tidak aku angkat, selain karena nomornya tidak aku kenal, juga aku memang sangat mengantuk sekali saat itu. Merasa diabaikan, sebuah sms hadir dari nomor yang sama mengucapkan “Assalamu’alaikum”.
Sekitar pukul 3, aku membalas sms tersebut dari nomor yang berbeda. Kebetulan, nomor threeku habis pulsa. Baru tadi siang aku isi pulsa three karena memang khusus ingin menelepon seseorang, namun malah seseorang itu tidak mengangkatnya.
Ternyata, yang meneleponku itu adalah seorang anak remaja berumur 15 tahun. Seorang anak yang sedang galau untuk memilih apakah tetap ke pacarnya atau beralih kepada selingkuhannya. Dia sedang mencintai seseorang yang berbeda dari yang menjadi haknya.
Salah tidak kak aku mencintai seseorang selain pacarku?
Salah!” jawabku tegas.
Terus gimana kak? Aku terlanjur cinta sama dia. Dia pun mencintai aku. Tetapi dia tidak tahu status aku sebenarnya,” lanjutnya.
Melihat isi sms itu, entah mengapa dadaku bergemuruh hemat. Lamat, bayanganku kembali ke beberapa bulan , saat aku merasa begitu sakit saat seseorang mengkhianatiku.
Aku pernah dikhianati dan rasanya sakit sekali.
Lupakan cowok itu, jujur sama dia. Hubungan tanpa kejujuran tidak akan membawa keberkahan.”
Terus kak sekarang apa yang harus aku lakukan? Aku mencintai mereka berdua!” Emosinya.
Selingkuh itu semacam ujian. You can pass it or not!” Jawabku.
Seandainya selingkuhan itu lebih baik akhlak dan sifatnya? Apa aku harus mutusi pacar?
Lebih sempurna bukan berarti lebih baik.
Kemudian pembicaraan kami berlanjut. Hingga di saat itulah aku mengetahui bahwa umurnya masih 15 tahun. Umur yang masih dalam masa galau dalam mencari apa sebenarnya makna hidup. Kami terus berbicara sampai dia membuat sebuah keputusan hendak memutuskan pacarnya.
Entah bagaimana, aku merasa sangat menderita. Aku mencoba menyelami apa sebenarnya yang dirasakan oleh pacarnya itu. Sebagai cowok yang juga tidak sempurna, aku memahami bagaimana rasanya diberlakukan tidak adil. Dinilai secara sebelah mata ketika seseorang telah menemukan yang lebih baik.
Apa makhluk-makhluk bumi memang tidak pernah setia?
Terlalu banyak orang mencari kesempurnaan. Mereka merasa sempurna itu ada di luar mereka. Mereka lupa, kesempurnaan itu bukan dicari, namun dibentuk, dibangun. Kesempurnaan tidak akan pernah dapat ditemukan, karena selalu ada yang lain baik dari yang baik. Itulah gunanya apa yang Tuhan katakan merasa cukup, sebuah nilai keikhlasan dengan semua yang diberikan Tuhan.
Teramat dulu. Seseorang pernah mencari dewasa. Dia tidak menemukan dewasa dalam diriku, sehingga suatu hari dia menemukan dewasa. Aku tidak tahu, apakah dia bahagia dengan dewasa yang dikejarnya setelah dia ditipu oleh mereka yang dewasa. Setelah dewasa beralih kepada cinta yang berbeda.